DARI SASTRA UNTUK INDONESIA
Nama : Eldipama Kesambamula
Pekerjaan : Dosen Bahasa Indonesia
Unit :Universitas
Islam Kuantan Singingi
Pendidikan, sastra sering kali dianaktirikan
dan kurang mendapat perhatian. Sastra sering mendapat status yang berbeda
dengan disiplin ilmu lainnya, seperti bidang eksakta yang selalu mendapat
perhatian lebih. Hal ini dikarenakan, penekanan ilmu eksakta bertujuan untuk pembangunan
fisik yang lebih konkret dan jelas. Sementara itu, pengaruh bidang sastra bisa menciptakan sumber darya manusia yang
humanis dan kritis ternyata kurang terlihat secara kasat mata Musthafa (2008:197).
Berbicara tentang sastra, tidak terlepas
dari ide kreatif, imajinasi, dan bahkan perasaan manusia. Perasaan senang,
sedih, marah, frustasi, bimbang, dan berbagai bentuk atau keadaan perasaan yang
dimiliki oleh manusia. Modal awal tersebut, mampu menghasilkan berbagai karya
sastra tergantung kemauan dan kemampuan manusia untuk mengungkapkannya dalam
karya sastra. Karya sastra yang dihasilkan tersebut, biasanya memiliki
nilai-nilai dan makna yang sangat mendalam, karena harus menggunakan gaya
bahasa dan imajinasi serta gagasan yang tepat.
Seseorang
pasti mengalami putus cinta, gelisah dalam menunggu jodoh atau pasangan hidup, ketidakpuasan
terhadap suatu kebijakan pemerintah, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan manusia. Di sini, dapat dijadikan sebagai modal awal untuk
mengungkapkan isi dari perasaan tersebut dalam bentuk karya sastra, seperti
puisi, novel, cerpen, drama, dan lain sebagainya.
Berbagai
ekspresi yang disampaikan dengan menggunakan karya sastra sebagai wadahnya,
karya sastra mampu membuka mata hati pembaca untuk mengetahui realita yang
sesungguhnya dari keadaan sosial, politik, percintaan, dan budaya dengan
menggunakan bahasa yang menyentuh, namun tetap memperhatikan etika dalam
penulisan sebelum pesan-pesan moral dari karya sastra itu disampaikan.
Sastra
dalam bentuk puisi dan novel merupakan karya sastra yang selalu menjadi pilihan utama
dalam pengungkapan suatu ide, perasaan, dan imajinasi pengarang. Sebagai contoh
kisah cinta Siti Nurbaya karya Marah
Rusli dan novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijk karya Buya Hamka yang mengalami berbagai cobaan dan tekanan terhadap
masing-masing tokoh untuk memperjuangkan hubungan asmaranya dengan kekasih
pujaan hati. Pengarang mencurahkan seluruh gejolak perasaan yang menumpuk di
dalam pikirannya, maka sudah pasti akan melahir karya sastra yang bernilai
tinggi dan menarik. Karya sastra lainnya dalam bentuk puisi juga tidak kalah
menarik dengan penggunaan bahasa yang khas serta menggunakan ekspresi dan intonasi yang sangat
menyentuh. Seperti puisi-puisi karya Khairil Anwar dan WS. Rendra adalah karya
sastra yang sangat fenomenal yang pernah ditampilkan.
Selain
itu, karya sastra dalam dunia politik tentang sistem negara demokrasi, seperti
halnya jurnalis, sastrawan atau pengarang bisa berfungsi sebagai pilar
penyangga serta pembangunan demokrasi di negara Republik Indonesia. Mereka
sering menyuarakan ideologi yang berpihak kepada kaum lemah atau rakyat kecil. Rezim
otoriter akan memberengus kebebasan pers, seperti berita yang ditutup-tutupi
karena tidak sesuai dengan keingingan penguasa, maka sastra sebagai jalan keluarnya.
Seni musik juga termasuk karya sastra yang dilagukan seperti grup band Iwan
Fals, Slank, dan Roma Irama adalah salah satu karya kreatif yang bernilai
tinggi dan mampu menggoyahkan kursi dari rezim otoriter tersebut.
Berdasarkan
penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa karya sastra memiliki peran
penting dalam kehidupan manusia. Sudah seharusnya karya sastra mendapat
perhatian lebih dari semua kalangan demi kemajuan serta menjaga Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) hingga masa yang akan datang melalui sumber daya
manusianya. Melalui karya sastra, diharapkan dapat menghasilkan bibit-bibit sumber
daya manusia yang humanis dan berfikir kritis. Salam karya sastra.
Sumber :
Musthafa, Bachrudin. 2008. Teori Dan Praktik Sastra Dalam Penelitian Dan Pengajaran. Jakarta: Cahaya Insan Sejahtera.
Comments
Post a Comment